Izz@tuN-NiS@

Kembali Fitri dengan Tampilan lebih Islami

Posted on: 28 Oktober 2007

Sudah merupakan sunatullah, bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Ramadhan yang kedatangannya selalu dirindukan oleh para salafus shaleh (ulama terdahulu) enam bulan sebelumnya dan dimohonkan dalam do’a mereka, kini saatnya akan berpisah dengan kita.

Imam Mu’alla bin al Fadhl rahimahullah berkata, “Dahulu para ulama senantiasa berdo’a kepada Allah selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan! Kemudian mereka juga berdo’a selama enam bulan agar diterima amal ibadah mereka (selama Ramadhan).”

Tidak ada yang bisa menjamin bahwa tahun depan kita akan kembali berjumpa dengan bulan yang penuh berkah, rahmat, dan maghfirah ini. Karenanya, beruntung dan berbahagialah kita saat berpisah dengan Ramadhan, membawa segudang pahala untuk bekal di akherat.

Semoga kita termasuk para shaimin (orang yang berpuasa), yang akan mendapatkan kebahagiaan luar biasa, yaitu saat bertemu Allah swt., sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya, “Orang yang berpuasa akan memperoleh dua kebahagiaan. Kebahagiaan saat berakhirnya ibadah puasa (berbuka) dan kebahagiaan saat bertemu Rabb-nya kelak.” (Muttafaq ‘Alaih)

Setelah sebulan penuh kita melaksanakan ibadah puasa dengan semangat iman dan mengharap balasan Allah (ihtisaaban) semata. Maka, memasuki hari raya Idul Fitri ini, berarti kita kembali kepada fitrah (kesucian). Jiwa kita telah fitri (suci) tanpa dosa, sebagaimana sabda Nabi saw.,

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan landasan iman dan mengharap ba/asan dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosa sebelumnya, “ (Muttafaq ‘Alaih).

Karena itu, sepatutnyalah jiwa yang sudah fitri ini diupayakan secara maksimal untuk dipertahankan dan dijaga dengan penunaian berbagai bentuk amal shalih pasca Ramadhan. Sebab, keberhasilan meraih derajat taqwa melalui ibadah puasa (A1-Baqarah/2: 183), bukan ditandai berakhirnya bulan Ramadban. Melainkan, sejauh mana iltizam (konsistensi) orang-orang yang berpuasa dalam melakukan ibadah pasca bulan Ramadhan. Sejauh mana kesinambungan harmonisasi hubungan dengan Sang Khaliq (Allah swt.) terpelihara secara baik pasca Ramadhan.

Jangan sampai prestasi cemerlang yang diraih dengan kerja keras selama sebulan penuh, terhapus oleh keburukan yang menyusul. Jangan sampai kesucian jiwa yang dibangun susah payah selama bulan Ramadhan, tercemari oleh perbuatan maksiat, begitu sayonara (berpisah) dengan Ramadhan.

Jika ini yang terjadi, maka sama halnya dengan orang yang mendirikan bangunan indah nan megah dengan biaya mahal, lalu Ia sendiri yang merobohkannya. Allah swt.. berfirman, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali, “(An-Nahl: 92).

Dikatakan kepada Imam Bisyr rahimahullah, “Sesungguhnya sekelompok kaum sangat rajin dan bersungguh-sungguh beribadah di dalam bulan Ramadhan, bagaimana pendapat anda?” Beliau lalu menjawab, “Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengetahui hak Allah kecuali di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang shalih akan selalu bersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun (tidak hanya Ramadhan saja).”

lmam Asy-Syalabi rahimahullah pernah ditanya, “Mana yang lebih utama bulan Rajab atau Sya’ban?” Beliau menjawab, “Kun Rabbaaniyyan walaa Takun Sya‘baaniyyan! (Jadilah engkau muslim yang rabbani, selalu ingat Allah kapan saja, jangan jadi Sya’bani, yang hanya beribadah di bulan Sya’ban saja). Dulu, Nabi saw. amalnya selalu berkesinambungan.”

Ummul Mukminin, Aisyah ra. pernah ditanya, “Apakah Rasulullah saw. dulu mengkhususkan suatu bulan tertentu untuk beribadah? Beliau menjawab, ‘Tidak Ada! Beliau saw. selalu berkesinambungan.”

Tidak berarti secara kuantitas kita harus sama persis seperti ketika bulan Ramadhan dalam beribadah kepada Allah swt. Tapi, yang dituntut dari kita adalah mempertahankan keistiqomahan dalam menapaki manhaj Allah yang lurus, memelihara kualitas semangat beribadah dan kesinambungan menta’ati Allah swt.

Sebab, menyembah dan menta’ati Allah tidak terbatas pada bulan Ramadhan saja. Imam Hasan Al Bashri rahimahullah pernah berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membatasi amal seorang mukmin dengan suau waktu tertentu selain kematian”, kemudian beliau membaca firman Allah, “Dan sembahlah Rabbmu sampai kematian mendatangi mu,” (Al-Hijr (15): 99). (Lathaa ‘ifu ‘l Ma ‘arif, hal. 261).

Boleh jadi amal shalih kita pasca Ramadhan secara kuantitas menurun. Tapi, yang penting kontinyu dan inilah yang terbaik, sebagaimana sabda Nabi saw., “Amal (perbuatan) yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara kontinyu meskipun sedikit,” (Muttafaq ‘Alaih).

Bulan Ramadhan memang telah berlalu, tapi musim-musim kebaikan lain segera menyusul. Shalat lima waktu yang merupakan perbuatan agung dan hal pertama yang akan dihisab di hari kiamat nanti, tidak berhenti dengan berakhirnya Ramadhan.

Jika puasa Ramadhan berakhir, maka puasa-puasa sunnah yang berpahala tidak kecil, tidaklah berakhir bahkan menanti sentuhan kita. Seperti, puasa enam hari di bulan Syawal, puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari dalam sebulan (Ayyaamul Bidh, han-han putib; tgl 13, 14 dan 15 tiap bulan), puasa Asyura’ (tgl 10 Muharram), puasa Arofah dan lain-lain.

Jika Qiyam Ramadhan dan Tarawih telah lewat. Maka, Qiyamullail (Tahajjud) tetap disyari’atkan tiap malam. Bermunajat di tengah malam adalah kebiasaan orang-orang shalih. Abu Sulaiman Ad Daaraani rahimahullah berkata, “Seandainya tidak ada malam, niscaya aku tidak ingin hidup di dunia.”

Jika zakat Fitrah berlalu, maka zakat wajib dan pintu sedekah masih terbuka lebar pada waktu-waktu yang lain.

Karenanya, memasuki Idul Fitri yang berarti jiwa kita menjadi fitri (suci), maka ‘tampilan’ kita harus lebih Islami. Termasuk dalam ‘tampilan’ di sini adalah tujuan, orientasi, motivasi, fikrah (pemikiran), akhlak, moral, perilaku, interaksi, policy, aktivitas, kiprah, dan peran. Baik ‘tampilan’ keindividualan kita, kerumahtanggaan kita, maupun ‘tampilan’ kesosialan kita. Baik ‘tampilan’ kerakyatan kita maupun ‘tampilan’ kepejabatan kita. Baik ‘tampilan’ dalam kesendirian kita maupun ‘tampilan’ dalam keramaian kita.

Ketika terjadi islamisasi ‘tampilan’ pasca Ramadhan, berarti ini merupakan indikator diterimanya puasa Ramadhan kita. Karena, jika Allah swt. menerima amal seseorang, maka pasti Dia akan menolongnya untuk mengadakan perubahan diri ke arah yang lebih positif dan meningkatkan amal kebajikan.

Seorang penyair Arab pernah mengingatkan dalam sya’irnya,

“Bukanlah hari raya Id itu bagi orang yang berbaju baru, melainkan hakekat Id itu bagi orang yang bertambah ta’atnya (kepada Allah swt.).”

Taqabbalallahu minna waminkum, wakullu ‘aamin wa antum bikhairin. Semoga Allah swt.. menenima semua amal ibadah klta di bulan Ramadhan. Amin …

Sumber : 30 Tadabur Ramadhan – Menjadi Hamba Rabbani – IKADI

Mailing List DKM-NECSEI

2 Tanggapan to "Kembali Fitri dengan Tampilan lebih Islami"

Semoga setlah ramadhan kita menjadi lebih bertaqwa. Menjadi pembela Islam yang tangguh dan kuat.

oh iya bu, maaf lahir batin jg ya bu!

Smoga setelah di training di pelatnas Ramadhan slama 30 hari ini, Jiwa2 dan smangat kita sudah siap bertanding dalam pertandingan yg sbenarnya, ya minimal sama dengan ramadhan lah, bukan nya lebih lemah daripada waktu pelatnas kmarin.

kan kalo atlet2 itu kl pas pertandingan bener2 serius dan maksimal than pelatnas, so kita harus lbh serius dan maksimal juga dalam pertandingan yg nyata selama 11 bulan ini.

Tetap semangat ya bu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

RSS My New Blog – Fatmawiyah.web.id

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip

Keep Fighting & Do The Best For your Life

Blog Stats

  • 75,365 hits
%d blogger menyukai ini: