Izz@tuN-NiS@

Pentingnya Sebuah Kredo

Posted on: 16 November 2007

Dalam buku “Rihlatul Wujud (Perjalanan Diri)” karya Ust. Husni M. Al-Banjari dalam Bab Tugas Apa Gerangan, Mengapa Kita Dicipta? memberikan wacana berpikir tentang hakikat manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Alah SWT. Namun, ibadah pengertiannya amat luas. Bukan hanya menjalankan rukun Islam secara ritual-formal, tetapi seluruh aktivitas, mulai bangun tidur hingga bangun tidur lagi, adalah ibadah. Terlebih doa kita yang menginginkan hidup di dunia hasanah (baik) dan di akhirat hasanah pula, maka hendaknya kita bertanya seperti apa ibadah dalam kehidupan hasanah itu.

Berikut ini adalah salah satu perenungan tentang hidup sebagai “ibadah-hasanah” (hidup hasanah dalam beribadah, atau ibadah dalam hidup hasanah); ibadah dalam ketumaninahan atau kemapanan dukungan finansial.

Pentingnya Sebuah Kredo

Salah satu alat penting untuk memulai prestasi setelah keterpurukan adalah sebuah kredo. Dengan kredo, sesuatu yang minus bisa menjadi plus; sesuatu yang lemah dan tak berdaya dapat menjadi kuat dan berdaya. Kredo adalah nilai kejuangan, juga di dalamnya ada nilai kepahlawanan.

Artinya selain pendekatan yang sifatnya ubudiyah vertikal itu, kita juga perlu mengubah beberapa pola dan sikap hidup. Seperti juga dalam bisnis, maka kehidupan pun membutuhkan kredo. Pebisnis terkenal dari Prancis, Colin Turner, dalam bukunya Lead to Succed (2002), menyimpulkan bahwa, daya bangkit perusahaan yang sedang terpuruk adalah adanya “ideologi inti” yang teguh. Ia menyebutnya kredo (sikap dasar) atau raison d’etre. Untuk bangkit dari keterpurukan, seseorang membutuhkan kredo untuk menata kembali hidupnya dengan benar. Inilah tugas terindah dalam hidup; jika saja mampu kita maknai.

Penumbuhan pola dan sikap baru dalam hidup ini penting, karena tugas ibadah seseorang akan menjadi lebih sempurna justru ketika ditunjang oleh keberhasilan-keberhasilan duniawi. Bukankah Rasulullah bersabda, “Mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mu’min yang lemah.” Juga sabda Nabi, “Tangan di ats lebih baik daripada tangan di bawah.”

Bayangkan saja, mungkin Anda pernah mengalami kondisi begini: kantong lagi kosong, sudah tiga bulan iuran sekolah anak belum terbayar, genteng rumah bocor tak terbiayai perawatannya, untuk biaya listrik-ledeng entah dari mana, sementara utang di tetangga belum lagi terbayar, maka dalam kondisi seperti itu dapatkah Anda khusyu beribadah?

Kesulitan kita dalam khusyu dalam beribadah akan himpitan ekonomi adalah karena separuh kehidupan kita terdiri dari materi, di mana kebutuhan-kebutuhan minimalnya harus juga dipenuhi. Jika kita merasakan kesulitan ini, maka kita adalah orang-orang yang sesungguhnya paling berhak untuk memiliki kredo, bahwa ibadah yang sempurna memang membutuhkan dukungan finansial yang memadai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

RSS My New Blog – Fatmawiyah.web.id

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip

Keep Fighting & Do The Best For your Life

Blog Stats

  • 75,365 hits
%d blogger menyukai ini: